Sidoarjo, Jawa Timur – Suasana haru dan kehangatan menyelimuti Pondok Pesantren Al Khoziny di kawasan Buduran, Sidoarjo, beberapa waktu lalu. Sebuah musibah bangunan roboh yang sempat merenggut perhatian publik meninggalkan duka mendalam bagi keluarga besar pondok, para santri, dan seluruh pengasuh. Namun, di tengah puing-puing sisa kejadian, sebuah cahaya kepedulian bersinar terang, dibawa oleh rombongan silaturahmi yang datang membawa pesan empati dan bantuan nyata. Inilah kisah tentang bagaimana Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Jawa Timur, bergerak melampaui batas bisnisnya, menggandeng berbagai kekuatan organisasi, untuk membuktikan bahwa kemanusiaan adalah fondasi utama dari sebuah pembangunan.
Pada hari yang telah ditentukan, rombongan yang dipimpin langsung oleh jajaran pengurus DPD Apersi Jatim tiba di lokasi. Mereka tidak datang sendirian. Menggenggam erat semangat kolaborasi dan solidaritas, Apersi Jatim berhasil menyatukan langkah dengan tiga pilar penting lainnya yang memiliki komitmen sosial tinggi. Tiga pilar tersebut adalah rekan-rekan terhormat dari Persatuan Insinyur Indonesia (PII), sebuah entitas yang membawa keahlian teknis dan kepakaran, NU Care LazisNU Kota Malang, yang mewakili kekuatan spiritual dan jaringan sosial keumatan yang luas, serta perwakilan dari Pondok Pesantren Darun Najah 2 Karangploso, yang menunjukkan dukungan moral dari sesama lembaga pendidikan keagamaan. Kehadiran empat entitas dengan latar belakang yang berbeda—pengembang properti, profesional teknik, lembaga amil zakat, dan pesantren—ini adalah perwujudan harmoni yang patut diacungi jempol, sebuah sinergi yang membuktikan bahwa ketika musibah melanda, semua sekat akan runtuh dan hanya menyisakan satu ikatan, yaitu ikatan persaudaraan.
Tujuan utama dari kunjungan ini sangat jelas: memberikan dukungan moril, menyampaikan duka cita mendalam, dan yang terpenting, menyalurkan bantuan konkrit untuk membantu proses pemulihan Pondok Al Khoziny. Musibah robohnya bangunan adalah pukulan berat, bukan hanya kerugian material, tetapi juga ancaman terhadap kelangsungan proses belajar mengajar bagi ratusan santri yang menggantungkan masa depan mereka di sana. Oleh karena itu, bantuan yang disalurkan bukan sekadar donasi biasa, melainkan sebuah investasi pada harapan dan masa depan. Para perwakilan Apersi Jatim menyampaikan secara langsung kepada pengasuh pondok bahwa inisiatif ini murni didasari oleh rasa empati, sebuah panggilan hati yang tak bisa diabaikan. Bagi Apersi Jatim, membangun rumah bukan hanya tentang menata bata dan semen, melainkan tentang membangun komunitas, membangun kehidupan yang aman dan layak, dan itu termasuk memastikan bahwa lembaga-lembaga pendidikan keagamaan seperti Pondok Al Khoziny tetap tegak berdiri.
Kehadiran PII dalam rombongan ini juga memiliki makna strategis yang mendalam. Dengan keahlian di bidang teknik konstruksi, PII tidak hanya membawa bantuan finansial, tetapi juga potensi pendampingan teknis dalam evaluasi kerusakan dan perencanaan pembangunan kembali. Aspek ini menjadi sangat krusial, mengingat pembangunan ulang harus dilakukan dengan standar keamanan yang lebih tinggi untuk mencegah terulangnya kejadian serupa. Sinergi antara pengembang (Apersi) dan insinyur (PII) di lokasi musibah mengirimkan pesan kuat kepada masyarakat: bahwa proses pembangunan pasca bencana harus dilakukan secara terencana, aman, dan berlandaskan ilmu pengetahuan yang tepat. Ini adalah demonstrasi nyata tanggung jawab sosial korporasi dan profesionalisme.
Sementara itu, kehadiran NU Care LazisNU Kota Malang dan PP Darun Najah 2 Karangploso memperkaya dimensi spiritual dan sosial dari kegiatan ini. LazisNU, dengan jaringan filantropi Islamnya, memastikan bahwa bantuan yang disalurkan memiliki landasan nilai keagamaan yang kuat, sebagai bagian dari kewajiban berzakat dan bersedekah. Kehadiran perwakilan pesantren lainnya juga menjadi simbol “dukungan dari dapur sendiri,” sebuah solidaritas antar lembaga keagamaan yang saling menguatkan di masa sulit. Ini menunjukkan bahwa semangat ta’awun (tolong menolong) dan ukhuwah (persaudaraan) benar-benar terimplementasi dalam aksi nyata, bukan sekadar jargon.
Selama silaturahmi, suasana diskusi berlangsung akrab dan penuh harap. Pengasuh Pondok Al Khoziny menyampaikan rasa terima kasih yang tak terhingga atas perhatian dan bantuan yang diberikan. Mereka bercerita mengenai tantangan yang dihadapi pasca musibah, mulai dari penataan tempat tinggal sementara bagi santri hingga upaya penggalangan dana untuk rekonstruksi. Dukungan yang datang dari Apersi Jatim, PII, LazisNU, dan Darun Najah 2 ini ibarat sebuah suntikan energi baru, pengingat bahwa mereka tidak berjuang sendirian. Doa bersama pun dipanjatkan, memohon kekuatan dan ketabahan bagi seluruh santri dan pengasuh, serta perlindungan dari Allah SWT di masa mendatang. Momen ini menjadi penegasan bahwa harapan untuk bangkit kembali itu nyata.
DPD Apersi Jatim, sebagai motor penggerak inisiatif ini, secara tegas menyatakan komitmennya untuk terus berkontribusi pada aspek sosial kemasyarakatan. Mereka menyadari bahwa peran sebagai pengembang tidak berhenti pada serah terima kunci rumah. Peran mereka adalah bagian integral dari ekosistem sosial dan ekonomi Jawa Timur. Oleh karena itu, keterlibatan dalam kegiatan kemanusiaan dan sosial seperti ini adalah bagian tak terpisahkan dari visi organisasi. Mereka ingin masyarakat melihat Apersi tidak hanya sebagai entitas bisnis, tetapi sebagai mitra pembangunan yang peduli, yang siap hadir kapan pun masyarakat membutuhkan uluran tangan, sebuah janji bahwa DPD Apersi Jatim akan terus berupaya hadir, tidak hanya dalam bidang perumahan, tapi juga dalam kegiatan sosial yang membawa manfaat bagi masyarakat luas. Aksi nyata ini adalah sebuah penekanan bahwa sektor properti juga memiliki hati nurani dan tanggung jawab untuk ikut serta membangun dan memulihkan kehidupan pasca bencana, sebuah etos kerja yang patut dicontoh oleh organisasi profesional lainnya. Solidaritas yang terjalin ini diharapkan menjadi inspirasi bagi banyak pihak untuk terus menumbuhkan semangat kepedulian dan gotong royong, memastikan bahwa tidak ada satupun saudara kita yang merasa sendiri saat menghadapi cobaan berat.

